kota kesunyian dan catatan kemarahan si tua bangka saat tak bisa tidur karena terlilit lapar.

tak ada yang bisa kau pandangi selain itu. daun jendela, bingkainya yang lapuk, juga kesederhanaan waktu. matamu melacak jejak di halaman, yang tertinggal setelah hujan badai mengguyur malam-malammu tiada henti. melahirkan semacam teror dari libur akhir tahun yang gagal menemukan bentuk. rumah kecil di ujung bukit. terlelap dalam pesta kembang api, sementara engkau bangun terlalu pagi, sadar dengan tubuh basah oleh keringat.

tak ada lagi yang bisa engkau pandangi, selain daun jendela yang gugur di halaman, melengkapi daun-daun belimbing yang berserakan. taman telah hancur, air mancur telah mati, juga menara-menera emas dan gerbang-gerbang tembaga telah roboh. di pelupuk matamu, kota gagal membuka diri, gagal berharap untuk bisa hidup lebih bahagia, sementara engkau telah tua. tiba-tiba sadar, tiba-tiba merasa telah terlampau lama hidup. sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: