tak ada yang bisa kau pandangi selain itu. daun jendela, bingkainya yang lapuk, juga kesederhanaan waktu. matamu melacak jejak di halaman, yang tertinggal setelah hujan badai mengguyur malam-malammu tiada henti. melahirkan semacam teror dari libur akhir tahun yang gagal menemukan bentuk. rumah kecil di ujung bukit. terlelap dalam pesta kembang api, sementara engkau bangun terlalu pagi, sadar dengan tubuh basah oleh keringat.

tak ada lagi yang bisa engkau pandangi, selain daun jendela yang gugur di halaman, melengkapi daun-daun belimbing yang berserakan. taman telah hancur, air mancur telah mati, juga menara-menera emas dan gerbang-gerbang tembaga telah roboh. di pelupuk matamu, kota gagal membuka diri, gagal berharap untuk bisa hidup lebih bahagia, sementara engkau telah tua. tiba-tiba sadar, tiba-tiba merasa telah terlampau lama hidup. sendiri.

tak ada yang bisa kau pandangi selain itu. daun jendela, bingkainya yang lapuk, juga kesederhanaan waktu. matamu melacak jejak di halaman, yang tertinggal setelah hujan badai mengguyur malam-malammu tiada henti. melahirkan semacam teror dari libur akhir tahun yang gagal menemukan bentuk. rumah kecil di ujung bukit. terlelap dalam pesta kembang api, sementara engkau bangun terlalu pagi, sadar dengan tubuh basah oleh keringat.

tak ada lagi yang bisa engkau pandangi, selain daun jendela yang gugur di halaman, melengkapi daun-daun belimbing yang berserakan. taman telah hancur, air mancur telah mati, juga menara-menera emas dan gerbang-gerbang tembaga telah roboh. di pelupuk matamu, kota gagal membuka diri, gagal berharap untuk bisa hidup lebih bahagia, sementara engkau telah tua. tiba-tiba sadar, tiba-tiba merasa telah terlampau lama hidup. sendiri.

seperti tiba-tiba ingin bunuh diri
hujan angin mecetak badai
menjadikan segala angan dan ingin berserakan
di depan pintu. seorang polisi mengarahkan moncong pistol ke kepalanya sendiri.

ada yang ingin diledakan masa lalu
ketika hujan turun tak henti
sementara angin mengibarkan bendera-bendera
meski tak tahu entah apa
kekacauan tak mampu dihambat. jangkar kapal di dermaga tak lagi tertambat.

“terbangkan aku ke suatu tempat. biar basah. aku hendak” pintamu, sambil mengibas ujung rambutmu yang tergenang.

semoga engkau tak lekas melupakan aku.
sebab kita pernah jadi satu
melawati taman dan teman, menyaksikan sepasang penyanyi menidurkan mimpinya.

semoga engkau tak lekas melupakan aku.
sebab kita pernah jadi satu
melihat api dan apa, di hadapan mata pena berkarat
dan kata-kata yang kehilangan bentuk.

semoga engkau tak lekas melupakan aku.
sebab engkau masa kecilku
tempat aku berlatih berjalan
jatuh dan dimaafkan.

di rumah ini
semua orang hidup dengan kenangan
ayah kehilangan pekerjaan
ibu kehilangan mesin jahit
aku kehilangan masa kecil

(bila pagi tiba
ibu menyalakan kompor
memasak air hingga kering
ayah memanaskan motor hingga dingin
aku mencari buku pelajaran hingga malam)

di rumah ini
jam dinding berjalan lebih lambat
hari bergerak lebih malas
punggung jam dan hari memikul beban
ingatan. dan nama-nama.

aku memandang ibu
ibu memandang ayah
ayah memandang keluar
sia-sia.